Dunamis Logo
home > knowledge-center > Agar Inovasi Diterima Dan Jangan Mati Muda

Agar Inovasi Diterima Dan Jangan Mati Muda

Thursday, 2 February 2012

 

article photo

Oleh : Genia Sembada/Self & Business Mastery


Belakangan ini istilah inovasi kian lazim terdengar. Respons yang mengemuka maupun ragam penafsirannya beraneka rupa. Namun tampaknya nyaris tak ada pihak yang menanggapi inovasi secara negatif. Inovasi senantiasa disambut antusias, disikapi dengan semangat positif, dan dijunjung sebagai jurus ampuh untuk menerabas stagnasi bisnis, hingga menjadi obat tumpulnya daya saing industri, bahkan - yang paling ekstrem - menjadi resep kemajuan negara. Adapun kalangan yang paling skeptis malah lebih memilih untuk tutup mulut ketimbang mengomentari, apa lagi mengkritisi, upaya inovasi.

Memang, animo pelaku usaha yang meyakini sumbangsih inovasi bagi kemajuan masih menggebu-gebu. Survei yang dilakukan oleh suatu perusahaan jasa konsultasi manajemen global di tahun 2010 mengungkapkan bahwa 72 % jajaran eksekutif masih memandang inovasi sebagai satu dari tiga prioritas teratas (Top 3) komponen strategi di perusahaan mereka. Persepsi positif ini turut diperkuat dengan data yang menunjukkan bahwa 61 % responden memperbesar kucuran anggaran bagi aktivitas-aktivitas yang dianggap berkaitan dengan inovasi. Boleh jadi inilah wujud komitmen perusahaan dalam menjaga kesinambungan inovasi.

Namun, ada satu temuan menarik dalam survei ini: meski lebih dari 50 % jajaran manajemen puncak merasa puas dengan imbal hasil (return) dari pendanaan inovasi, ternyata hanya 36 % karyawan yang berpendapat serupa. Makin rendah kedudukan responden dalam hirarki perusahaan, makin kecil juga tingkat kepuasannya terhadap inovasi.

Dari satu sisi, semua ini mengisyaratkan kemauan strategis di tingkat korporat untuk menjaga kesinambungan inovasi. Di sisi lain, bagaimana baiknya memaknai dan menyikapi sambutan lesu para karyawan, yang tidak seantusias para atasan mereka? Ataukah inovasi yang ditempuh perusahaan sebenarnya hanyalah 'mainan mahal' pihak elite, sementara karyawan pada tingkat yang lebih rendah dianggap bukan bagian dari stakeholder inovasi korporat? Tetapi bukankah ini pun merupakan wujud bahaya moral bagi organisasi pelaku inovasi itu sendiri? Bagaimana gerangan jika gelagat ini berkepanjangan?

Dave Marcum, Steve Smith dan Mahan Khalsa dalam buku BusinessTHINK mengakui bahwa inovasi merupakan penggerak penting perekonomian yang berperan memunculkan gelombang baru kewirausahaan di Amerika Serikat maupun di belahan lain dunia. Namun ada sisi gelap yang menyertainya. Ribuan bisnis baru yang terlahir atas nama inovasi - ide-ide segar, gagasan brilian serta produk/jasa baru yang unik - akhirnya gagal di tengah pasar dan kemudian binasa. Padahal segenap ikhtiar ini teramat layak menyandang gelar sebagai buah inovasi. Mereka dihasilkan dari capaian riset tercanggih, dibiayai investor bermodal kuat, dan diluncurkan dengan sokongan infrastruktur paling handal. Rupanya, mendudukkan keinovasian semata sebagai faktor sukses kunci bisnis ternyata rawan, kalau tak mau disebut berisiko tinggi.

Bukankah inovasi itu tiada lain merupakan puncak cemerlang pencapaian umat manusia sendiri? Lantas harus bagaimana lagi manusia menyempurnakan andilnya dalam inovasi? Seperti halnya kemunculan mesin uap, mobil, penisilin, televisi, tenaga nuklir dan sederet penemuan apapun dalam sejarah peradaban, inovasi tetaplah mensyaratkan kearifan manusianya. Dan di sinilah Marcum dan kawan-kawan mewanti-wanti bahwa inovasi bukanlah benda sakti yang serta-merta menggaransi kesuksesan. Inovasi merupakan produk intelektual (baca: IQ) manusia, namun pembuat strategi, pengambil keputusan dan pelaku usaha dihimbau mengoptimalkan EQ atau kecerdasan emosionalnya demi keutuhan proses bisnisnya.

Dalam hal ini, ribuan macam produk/jasa inovatif yang gagal di pasar maupun dinginnya sambutan dari karyawan level bawah terhadap inovasi korporat (seperti tersirat dalam survei di atas) bisa menjadi rambu lemahnya segi EQ. Peringatan Marcum dan kawan-kawan kiranya menjadi amat relevan. Perpaduan harmonis EQ dan IQ, yang kemudian mereka namai XQ atau kecerdasan entrepreneurial, akan menuntun praktisi bisnis pada keputusan bisnis yang utuh - yakni inovasi yang dapat diterima supaya sukses - dan bukan sekedar dilekati aspek kebaruan (novelty) saja. Mengabaikan ini tentu rawan, mengundang kerugian material maupun moral. Betapa sayangnya jika keinovasian yang sedemikian mahal, menguras sumber daya, waktu dan tenaga, kemudian malah tidak dapat diterima (dan akhirnya, mati muda) akibat kekurangselarasan EQ dan IQ semenjak awal proses membidaninya.

Genia Sembada
Facilitator
Self and Business Mastery Practice


Dikutip dari DunamisNewsletter edisi Februari 2012