Dunamis Logo
List of Articles
 
home > knowledge-center > Menata Ulang Batik

Menata Ulang Batik

Thursday, 10 March 2011

 

article photo

Oleh : Satyo Fatwan/Dunamis Organization Services


Batik tak lagi seperti dulu. Penetapan batik sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO menimbulkan euforia baru di kalangan masyarakat Indonesia. Baik kalangan menengah-bawah hingga atas seperti bersatu padu dalam keindahan seni tekstil tradisional itu. Apalagi, beberapa perancang busana di Eropa juga telah lebih dulu menggunakan batik sebagai elemen rancangan mereka. Batik naik pangkat dan pemandangan orang-orang berbusana batik pun lazim ditemukan dalam berbagai acara, baik formal maupun kasual.

Tren ini tentu saja memberi limpahan berkah bagi pabrik-pabrik batik. Yang hampir mati menjadi hidup kembali dan yang telah sukses makin menuai untung. Namun, apakah sesederhana itu? Apakah peluang pasar bisa begitu saja diraup dengan hanya menambah jumlah produksi?

Pasti saja, peluang pasar yang besar itu akan diikuti dengan bertambahnya pesaing-pesaing baru. Mereka muncul dengan spirit baru dan dengan kualitas yang beragam pula. Dari sinilah para produsen batik harus memutar otak agar bisnis mereka tetap bisa bersaing di pasar. Untuk mampu memenangkan persaingan, perusahaan batik harus stands out dibanding yang lain. Produsen tidak hanya membuat produk yang sekadar good (baik) namun harus menjadi great (hebat). Dan secara organisasi, menjadi organisasi yang great (unggul) merupakan sasaran setiap organisasi dan kunci untuk bertahan dalam persaingan.

Perusahaan batik yang telah berdiri lama memang merupakan bukti bahwa organisasi tersebut mampu melewati berbagai masa. Namun, usia perusahaan dan pengalaman belum cukup untuk menyandang sebutan great. Untuk disebut sebuah organisasi yang great harus memenuhi empat komponen, yaitu: memiliki performa superior secara berkesinambungan, memiliki pelanggan yang loyal, memiliki karyawan yang bekerja dengan hati, dan memberikan kontribusi yang distinctive untuk lingkungan sekitarnya.

Empat komponen ini menjadi elemen krusial yang harus diperhatikan dalam dunia bisnis yang juga mengenal hukum alam: siapa yang kuat dia yang akan bertahan. Namun, kuat saja tidak cukup. Saat ini kita telah memasuki era baru, knowledge economy era, dimana perusahaan tidak hanya dituntut kuat dari sisi pendanaan namun harus kreatif, inovatif, dan memahami kebutuhan pelanggan. Salah satu kunci perusahaan-perusahaan yang hebat di pasar saat ini adalah mereka yang mampu memanfaatkan setiap knowledge yang ada di perusahaannya, baik secara individu maupun kolektif dengan optimal.

Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh Batik Semar menarik untuk disimak. Perusahaan ini mengikuti perkembangan pasar, memanfaatkan kesempatan 'booming' batik di Indonesia, dan melihat peluang yang masih terbentang luas. Dengan mengoptimalkan knowledge yang mereka miliki tentang perbatikan, Batik Semar berusaha menciptakan karya-karya yang personal dan unik untuk memenuhi kebutuhan pasar. Mereka membaca pasar dengan pengetahuan yang telah diperbarui dan memanfaatkan momentum dengan sebaik-baiknya.

Proses re-branding yang dilakukan Batik Semar dengan 'beyond batik' merupakan langkah awal mereka untuk menjadi organisasi yang great:

1. Sustainable Superior Performance
Kinerja yang superior saja tidak cukup. Ada banyak kejadian di mana perusahaan berhasil menguasai pasar dan memiliki kinerja yang meningkat pesat, namun tidak berlangsung lama dan tidak berkesinambungan. Dengan re-branding 'beyond batik', positioning yang diraih menjadi semakin tinggi karena pencitraan batik sebagai warisan budaya membuat orang memberi nilai lebih terhadap produk batik. Beyond batik juga memberi kesan bahwa batik tidak sekadar menjual produk seperti perusahaan lainnya, akan tetapi juga nuansa baru dengan kreativitas tinggi yang memposisikan batik dalam strata yang adiluhung. Sebagai perusahaan yang lama menggeluti bidang ini, Batik Semar memiliki knowledge bahwa seni membatik memiliki berbagai sisi yang terus digali. Knowledge itulah yang memberi atribusi terhadap kesinambungan sebuah produk berada di jajaran yang superior terhadap pesaingnya.

2. Loyal Customer
Pencitraan terbaru dari batik memberi sentuhan yang lebih personal kepada pelanggan. Selain itu, Beyond Batik juga mengarahkan imajinasi pelanggan menuju pencitraan batik yang baru dan mengingatkan betapa batik adalah 'kemewahan' dari nenek moyang. Dengan demikian pelanggan merasa diperhatikan secara personal. Yang diharapkan, mereka puas (satisfaction customer) dan berlanjut menjadi loyal customer. Tak hanya puas membeli untuk diri sendiri namun juga merekomendasikan kepada orang lain. Kepuasan pelanggan memicu word of mouth dan hasil akhir tentu mendukung performa.

3. Engaged Employee
Beyond Batik membawa semangat baru bagi karyawan Batik Semar. Setiap hal baru akan memunculkan harapan baru. Karyawan merasa bahwa hasil karya mereka semakin dihargai oleh perusahaan dengan re-branding ini. Hasil karya mereka mewakili nilai-nilai pribadi dan sosial. Penghargaan terhadap hasil karya mereka dari perusahaan akan memicu kenaikan level of engagement karyawan. Pelatihan brand yang dilakukan membuat karyawan semakin mencintai dan bangga akan produk mereka sendiri. Secara tidak langsung, karyawan menjadi duta bagi Batik Semar dan akan antusias menjelaskan produk pada klien. Dilengkapi dengan service yang baik, para pelanggan akan semakin puas dan loyal terhadap Batik Semar. Manakala karyawan mengerjakan segala sesuatunya dalam bingkai yang menyenangkan hatinya, segalanya terasa lebih mudah. Mudah bagi dirinya, dan mudah pula bagi orang-orang di sekitarnya. Cara berpikir positif pun menular ke performa perusahaan secara keseluruhan.

4. Distinctive Contribution
Untuk menjadi great, berkontribusi secara distinctive terhadap lingkungan sekitar menjadi keharusan. Beyond Batik merupakan bentuk kontribusi pengembangan batik di Indonesia oleh Batik Semar. Slogan ini menjadi wujud dari sikap memasyarakatkan batik ke dunia internasional. Dalam batik ada visi dan sejarah yang memiliki nilai filosofis yang terus digali dan di-share hingga menjadi pengetahuan bagi masyarakat. Tak hanya itu, Batik Semar juga membuka pintu kesempatan untuk bekerjasama dengan para perajin. Kontribusi ini memiliki dampak sosial dan ekonomi yang signifikan. Di sinilah, Beyond Batik mendefinisikan banyak hal yang membuat batik tak sekadar seni visual berbusana.


Satyo Fatwan
Penulis adalah Managing Partner Dunamis Organization Services

Dikutip dari Bisnis Indonesia edisi 6 Maret 2011