Dunamis Logo
List of Articles
 
home > knowledge-center > Membangun Aset Pengetahuan

Membangun Aset Pengetahuan

Saturday, 5 March 2011

 

article photo

Oleh : Satyo Fatwan/Dunamis Organization Services


Di bagian timur Belgia, dekat perbatasan Belanda, berdiri pabrik Owens Corning yang menghasilkan sekat kaca fiber. Bisnisnya bersifat musiman dan mengikuti siklus, sangat dipengaruhi oleh jumlah pembangunan perumahan atau komersial, serta proses manufaktur yang kurang efisien.

Akibat masalah musiman dan proses, Owens Corning menimbun persediaan dalam jumlah besar. "Kami memerlukan gudang yang lebih besar," demikian menurut manajer pabrik. Namun apa yang diinginkan oleh manajer tersebut tidak pernah tercapai. Rich Karcher, Direktur Keuangan Owens Corning, mengatakan: "Kami harus menggantikan persediaan barang dengan informasi."

Ia memperkirakan persediaan dengan rencana produksi, dan menghubungkan secara langsung pesanan yang datang dengan jadwal pembelian dan pembuatan. Karcher yakin pabrik tersebut mampu menghilangkan jumlah persediaan bahan baku dan barang jadi, sehingga penambahan gudang dapat ditiadakan.

Kemajuan di bidang teknologi informasi telah menggiring dunia usaha menemukan berbagai cara untuk memanfaatkannya sebagai pengganti investasi yang mahal dalam aset fisik. "Apabila Anda harus mengulangi industri perbankan dari awal, Anda tidak akan menggunakan batu bata dan adonan semen," ungkap Neal P. Miller, Manajer New Millenium Fund milik Fidelity Investment.

Pada Desember 1993 - Oktober 1995, Wells Fargo & Company, salah satu bank papan atas di AS, mengurangi jumlah kantor cabangnya. Setiap menutup kantor cabang, Wells Fargo mendirikan sebuah "kantor cabang mini" di supermarket-supermarket California yang memberikan pelayanan penuh dengan luas hanya 400 kaki persegi - kurang dari seperlima belas luas kantor cabang yang lama - dan menambah 500 kios perorangan seluas 36 kaki persegi.

Kita tahu zaman telah berganti. Kita juga kerap mendengar bahwa manusia telah melalui empat era yang berbeda-beda. Selain perbedaan cara pandang, masing-masing era memacu manusia menggunakan alat serta perilaku yang berbeda pula.

Era pertama dalam sejarah manusia adalah hunters and gatherers atau zaman berburu dan mengumpulkan makanan. Alat yang digunakan masih sederhana, yakni tombak dan panah. Perilakunya pun lebih individualis. Para hunters and gatherers dapat dipastikan tidak terbiasa menyisakan makanan untuk jangka waktu lama.

Kemudian, lahir era pertanian (agrarian). Tombak dan panah yang dianggap canggih di masa berburu menjadi tidak relevan. Peralihan dari pemburu menjadi petani menuntut manusia menggunakan alat baru seperti pacul dan traktor. Hasil pertanian bisa mencapai 50 kali lebih besar dari hasil berburu, sehingga orang berlomba-lomba menjadi petani.

Waktu terus berjalan. Lahirlah sekelompok manusia yang dapat melanjutkan sukses di bidang pertanian dan mampu melakukan inovasi-inovasi, disebut era industri. Selain mampu memberi nilai tambah 50 kali lebih besar dari era sebelumnya, di era ini keberadaan petani terpangkas hingga 90% lebih.

Era baru telah lahir, yaitu era knowledge information. Di era ini karyawan dilihat sebagai aset perusahaan, bukan semata resource. Sayangnya, kendati kita sudah bertransformasi ke era knowledge information, kita masih membawa peralatan dari era sebelumnya. Salah satu peralatan yang tanpa sadar kita bawa adalah financial and accounting management. Ini terlihat dari laporan keuangan perusahaan di mana manusia masuk kategori liabilities. Dengan kata lain, perusahaan sudah memasuki era pengetahuan namun pendekatan yang dilakukan masih menggunakan cara lama.

Instrumen yang selama ini dipakai di era industri, sejatinya tidak cocok lagi dengan era saat ini karena kita sudah deal dengan para pekerja pengetahuan (knowledge worker). Penulis buku The 8th Habit, Stephen R. Covey, menyatakan, harta paling berharga perusahaan abad ke-20 adalah peralatan produksinya. Sedangkan harta yang paling berharga dari institusi abad ke-21, entah institusi itu bisnis atau bukan, adalah para pekerja pengetahuannya dan produktivitas mereka.

Perusahaan berbasis pengetahuan berjalan dengan cepat. Mungkin tidak memiliki aset sebanyak perusahaan di era industri. Pengetahuan dan informasi telah menggantikan tumpukan persediaan barang dan bangunan. Aset fisik telah berevolusi menjadi aset intelektual, dan keberadaannya kini makin diminati.

Sebutlah The Walt Disney dan Google Inc. Siapa yang tak mengenal kedua perusahaan ini? Keduanya sama-sama perusahaan publik. Disney tercatat di New York Stock Exchange, sementara Google terdaftar di Nasdaq. Disney mewakili perusahaan yang aset fisiknya bertebaran di mana-mana. Usianya pun sudah cukup tua. Salah satu perusahaan hiburan dan media terbesar di AS, ini didirikan pada 16 Oktober 1923. Sedangkan Google masuk kategori perusahaan yang tak memiliki aset fisik dan usianya jauh lebih muda dari Disney. Google didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin ketika masih mahasiswa di Universitas Stanford pada 4 September 1998.

Yang menarik, kendati Google tidak memiliki aset sebesar Disney, kapitalisasi pasarnya jauh lebih tinggi. Kapitalisasi pasar Disney hanya US$ 69,206 miliar, sementara Google tercatat US$ 202,58 miliar atau nyaris tiga kali lebih besar dibanding Disney. Mengapa demikian?

Itulah kehebatan aset intelektual yang menjadi kekuatan Google. Thomas A. Stewart mengatakan, ketika nilai pasar saham suatu perusahaan mencapai tiga, empat, atau sepuluh kali harga bukunya, ini mewakili suatu kesimpulan yang sederhana tapi mengandung kebenaran: aset fisik perusahaan berbasis pengetahuan memiliki kontribusi yang lebih kecil daripada aset tak berwujud (intangible assets) seperti bakat orang-orangnya, efektivitas sistem manajemen, dan hubungan pada pelanggan.

Hal ini sekaligus memberitahukan kita bahwa bakat, kemampuan, keterampilan, dan ide (modal intelektual) yang membuat Google pantas dikagumi. Perusahaan lain, Microsoft, juga tidak memiliki apa-apa. Investor tidak membeli Microsoft karena pabrik perangkat lunaknya, melainkan karena kemampuan orang-orangnya untuk menulis kode-kode program, mengatur standar untuk perangkat lunak komputer perorangan (PC), dan memanfaatkan nilai dari mereknya.

Siapa yang tak ingin menjadi perusahaan berbasis pengetahuan? Berdasarkan hasil studi Teleos, terdapat 8 dimesi yang perlu dikembangkan dalam rangka mewujudkan knowledge enterprise, meliputi kepemimpinan, budaya perusahaan, iklim berbagi dan berkolaborasi, manajemen intelektual kapital, manajemen pengetahuan kustomer, pembelajaran organisasi, inovasi, dan upaya mengubah pengetahuan menjadi nilai bagi perusahaan.

Untuk sampai ke tujuan itu, perusahaan perlu membangun kepedulian di antara sesama karyawan mengenai cara mengalirkan pengetahuan melalui penerapan knowledge management (KM). Tentu saja, untuk mengembangkan pengetahuan dibutuhkan keterlibatan seluruh komponen dalam perusahaan. Mengingat pengetahuan bersifat kontekstual, maka pengetahuan di suatu perusahaan tidak selalu cocok diterapkan di perusahaan lain. Karena itu perusahaan perlu mengidentifikasi dan memetakan pengetahuan-pengetahuan unggul yang dimilikinya.

Agar pengetahuan-pengetahuan tersebut tersebar secara merata, perusahaan perlu menyediakan tempat diskusi yang nyaman bagi kegiatan berbagi pengetahuan (knowledge sharing). Banyak perusahaan yang terbukti mampu berkembang pesat berkat penerapan KM yang sesuai dengan strategi bisnis. Salah satunya PT Unilever Indonesia Tbk. Perusahaan yang beberapa kali memenangkan ajang Most Admired Knowledge Enterprise (MAKE) yang diselenggarakan oleh Dunamis Organizations Services, ini menjadikan kegiatan knowledge sharing sebagai bagian dari budaya perusahaan.

Bagaimana dengan perusahaan Anda? Apakah akan menyesuaikan diri dengan era pengetahuan yang sedang berlangsung saat ini, atau tetap bertahan dengan cara-cara lama? Pada akhirnya, membangun aset pengetahuan adalah sebuah pilihan.

Satyo Fatwan
Penulis adalah Managing Partner Dunamis Organization Services

Dikutip dari Bisnis Indonesia edisi 27 Februari 2011