Dunamis Logo
List of Articles
 
home > knowledge-center > Visi Seorang Pemimpin

Visi Seorang Pemimpin

Monday, 10 March 2008

 

article photo

Oleh : Agi Rahmat


Monday, 10 March 2008 - Ada sebuah pasase cerita yang menarik dari Alice in Wonderland, ketika Alice tersesat di hutan. Ia menemukan dua jalan bercabang. Ia ragu jalan mana yang mesti dipilih. Alice pun bertanya kepada seekor kucing yang lama memperhatikan Alice dari atas dahan pohon.

"Bisakah kau memberitahu jalan mana yang harus kupilih?" kata Alice.

"Oh, itu tergantung kau mau kemana," jawab kucing, acuh tak acuh.

"Saya tidak tahu mau kemana."

"Kalau begitu, jalan manapun yang kau pilih sama saja."

Cerita ini menghibur karena maknanya begitu dalam. Sang Kucing sebetulnya sedang mengatakan bahwa tanpa tujuan yang jelas, jalan manapun yang ditempuh akan sama tak jelasnya. Dalam organisasi, tujuan itu berupa visi. Sepanjang visi itu tak jelas, apa yang kita lakukan untuk mencapainya juga akan sama kaburnya, bahkan sia-sia.

Seringkali orang terjebak menganggap bahwa sebuah visi hanya bualan dan omong kosong belaka, hanya mimpi yang sulit sekali diwujudkan. Padahal orang melakukan sesuatu dimulai dari sebuah mimpi. Galileo Galilei, seperti tertuang dalam surat pengakuan kepada anak perempuannya, sebermula hanya membayangkan ada benda-benda, ada sesuatu di alam raya sana, di kegelapan sana, yang tak bisa ia lihat dengan mata telanjang, sebelum ia membuat teleskop.

Tapi memang ada visi yang berkualitas ada visi yang ngawur. Untuk menguji seberapa bagus visi yang anda miliki, ada lima aspek yang bisa dijadikan patokan, yaitu : a) menantang, memberi inspirasi, dan semangat, b) menciptakan tujuan, arah, dan komitmen, c) melampaui kepentingan setiap pribadi, d) menjadi bagian integral dari budaya organisasi yang bersangkutan, dan e) tidak rumit, ringkas, mudah dipahami, dan dikomunikasikan.

Misi seorang pemimpin akan selalu merujuk pada visinya. Ia, misalnya, punya mimpi suatu hari kelak akan memiliki unit kerja yang selalu siap sebelum diminta, unit yang punya dedikasi tinggi, penuh antusiasme dengan kontribusi yang signifikan, serta bertekad dikenang sebagai seorang pemimpin bukan karena jabatannya, tapi kerendahan hati dan kerelaan berbagi.

Tapi, memang, visi dan misi tak akan menghasilkan apapun tanpa ditunjang seorang pemimpin yang cekatan. Organisasi yang berhasil umumnya dipimpin oleh mereka yang mengembangkan gaya kepemipinan yang dinamis dan efektif.

Kepemimpinan adalah kata sifat, yaitu ciri-ciri tertentu yang terdapat pada seseorang yang membuatnya memiliki kelebihan dibanding kebanyakan orang, khususnya dalam hal kemampuannya menjadikan dirinya, pemikirannya, kata-katanya bahkan gaya hidupnya diikuti atau ditiru oleh orang lain.

Suatu hasil analisis statistik menunjukkan bahwa dari setiap seratus pendirian usaha baru, setengahnya gulung tikar dalam dua tahun dan pada akhir tahun kelima hanya satu pertiganya saja yang tetap bertahan hidup. Hampir semua kegagalan itu disebabkan karena kepemimpinan yang tidak dinamis dan efektif.

Begitu banyak dan beragam definisi mengenai kepemimpinan yang dinamis dan efektif dari masa ke masa. Namun menurut Stephen R. Covey kepemimpinan yang dinamis dan efektif adalah kepemimpinan yang tumbuh dari dalam ke luar. Artinya sifat-sifat utama yang berdasarkan prinsip pertama-tama dimulai dari diri sendiri (personal), menjadikan dirinya layak dipercaya lebih dahulu sebelum mendapatkan kepercayaan dari orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, apapun sikap dan tindakan kita selalu ada konsekuensi yang harus kita pikul. Kita bebas menentukan pilihan tapi tidak pernah terbebas dari konsekuensi. Selalu ada harga yang harus kita bayar dari apa yang kita pilih.

Seorang pemimpin yang baik akan menerjemahkan "harga" itu dengan selalu bertanggung jawab dengan memikirkan dulu respon dari setiap keputusan yang ia buat. Dalam ilmu manajemen, sikap ini disebut proaktif. Pemimpin yang proaktif, setelah menentukan visi yang jelas, akan lebih besar terhindar dari problem.


kutipan dari : Business Review Magazine - March 2008